Total Tayangan Halaman

Minggu, 10 Juli 2016

Mengomentari Resign


jadii..punya blog sejak Mei 2010,,dengan jumlah postingan lebih dari 100,, tulisan berkisar kehidupan sehari-hari,, persahabatan,, pekerjaan,, politik,, hingga tentang tolak reklamasi,,dalam kurun waktu 6 tahun lebih dan tulisan yang beragam itu jumlah viewer blog ga sampe 5000 scara kseluruhan...

dan sebuah postingan berjudul "Resign, Resign & Resign" benar2 membuat traffic blog meningkat tajam, dalam waktu 3 hari jumlah viewer hampir tembus 10rbu... 2x lipat viewer blogku selama 6 tahun ini.. knapa tulisan itu bisa sedemikian viral dan menuai komentar begitu beragam?! simpel aja mungkin yaa,, karena seperti yang aku bilang, omongan resign itu seperti makanan sehari-hari di kantor mana pun aku berada,,hehe.. dan mungkiinn,,,mungkin nii bnyak yang sedang dalam posisi mempertimbangkan "sesuatu" yaa,, silahkan tulisan itu kali aja bisa dijadikan referensi..

sebenarnya sebuah tulisan yang sederhana saja,, terinspirasi dari pertanyaan teman yang menanyakan aku masih di mandiri apa tidak,, daaaan pertanyaan2 sejenis yang mngkin keluarga di kampung aja smpe bingung aku kerja dimana sebenarnya., memang sih ya,, harus diakui,, dengan masa kerja belum smpe 7 tahun, aku sudah 3x pindah..
ketika ada yang bertanya pasti akan merembet kmana2,, knapa resign? knapa ksana? knapa begini? knapa begitu? knapa gak gini? knapa gak gitu? pasti ada masalah ya? pasti ga cocok ya? pasti gak tahan ya?,, jadi maksudku adalah klo ada yang nanya lagi aku tinggal ngasi link blog tadi,,udah bacalah itu..tulisan itu bukanlah bermaksud mengglorifikasikan keputusanku atau sebuah ajang pembenaran tapi lebih kepada sharing pengalaman dan jawaban..hehe..daaan,,komentar yang pedas smpe yang manis pun udah biasa kok dengernyaa,, dicap sebagai kutu loncat pun uda biasa kok,, dicap apalagi ya?

(jika di politik mngkin aku menganalogikan seperti seorang Ahok x yaa,, dari partai ke partai, dari eksekutif ke lefislatif trus balik lagi ke eksekutif,, ya ga masalah kan? itu haknya dia dan selama itu tdak merugikan pihak lain semua sah2 saja.)

oh ya aku terinspirasi juga dari profil2 para direksi perbankan,, coba iseng aja cek profil direksi bank nasional mana aja,, spertinya di CV akan keliatan jelas kok karir mereka bertumbuh ga hanya dari satu bank saja :) maksudku bukan bercita2 jdi direksi tapi ya itu hal yang lumrah dan pasarnya memang ada,,wong sekelas elite2 level sono aja brani kok pindah2,, knapa gw kagak x)
 
seperti kebiasaanku stiap aku ngeblog, pasti akan share di facebook,, yah skedar untuk berbagi pikiran (mau dibaca monggo, gak dibaca ya kok tega :p) untuk tulisan terakhir itu dishare 60an kali (smpe tulisan ini terbit) responnya kereen euyy,, ga nyangka aja,, kbetulan aku bisa melihat (walau sebagian karena terkendala privacy facebook) siapa2 aja yg menshare,, siapa2 saja yang komentar ttg tulisan itu,, bbrapa teman juga ada yg merespon via bbm dan WA,, waah... seriusan ga menyangka akan membaca komentar2 yang beragam,,apalagi datang dari orang yg ga dikenal sebelumnya..

ehh yaaa,, bnyak yg kecele jga sama tulisan itu,, dikiranya resign terus wiraswasta dan sukseess besarr,,haha... aku gak bermaksud menjebak kok,, jdi yaa itulah namanya asumsi ya..tergantung dari sudut pandang mana mau dibahas.. btw,, smakin hari jdi mrasa ada anggapan orang yg sukses adalah orang yang berwiraswasta,, tapi percayalaah,, jadi pegawai pun ga slamanya menderita kok,, jdi pegawai bisa kok sukses dan kaya,, jnganlah posisi pegawai dianggap seperti kasta kelas kedua,, (curhatan pegawai yang sudah mencoba beberapa x berwiraswasta namun gagal, tapi nanti coba lagi)  lagian hari gini yaa biarkan uang yang bekerja dengan sendirinya,, bisa salah satunya yang namanya berinvestasi,, dari reksadana hingga trading saham atau malah smpe forex (yg ini blm pnah nyoba),,gak perlu modal yang gede kok,, ada yang berminat? bisa hub saya *jadi jualan...

sekali lagi,, resign tidak resign tentu sebuah pilihan, dan aku sangat menghormati orang yang bisa bertahan lama dalam sebuah posisi atau sebuah kantor.. aku sendiri mngkin tipe yang bosanan,, tipe yang begitu mendapat tawaran atau peluang yaa kok pengen coba.. mau nantinya bakal sukses atau gak,, berhasil atau gak ya urusan kedua,, intinya hajar dlu,, hasil belakangan..,(tapi jangan juga  membayangkan aku gak perlu duit atau main2,, semua dijalani secara serius kok)  dan sebelum resign aku memastikan semua tanggung jawab clear,, kerjaan beres,, intinya, qta diterima dan masuk baik2, keluarpun harus baik2, termasuk memenuhi ketentuan harus sebulan sebelumnya menginformasikan keluar, bayar pinalti, dll.. dan aku sangat sangat bersyukur,, hubungan dengan teman2 eks kantor dlu masih begitu baik,, masih sering berkomunikasi jga.. bayangkan bisa pnya banyak teman dari beberapa kantor,, modal yang baik untuk kampanye nanti x)

akhir kataa,, sukses versiku dari jaman awal kerja adalah bisa tidur nyenyak.. seperti kutipan Gede Prama dibawah (walaupun aku gak pernah meditasi):
"Tidur nyenyak adalah kekayaan yang sulit ditemukan di zaman ini. Jika orang miskin susah tidur karena merasa kekurangan, orang kaya sulit tidur karena merasa takut kehilangan. Itu sebabnya, salah satu arti meditasi adalah selalu istirahat di tengah. Tidak terlalu sedih, tidak terlalu senang. Di titik yang jauh dari keadaan serba terlalu, disanalah seseorang bisa menemukan kekayaan kehidupan yang bernama tidur nyenyak makan enak"

Kamis, 07 Juli 2016

Resign, Resign & Resign

"masih di mandiri?"
yeaa...di tahun 2016 akhirnya masih ada yang bertanya seperti itu,, mau ga mau kembali flashback... Mandiri,, siapa sih yang ga bangga menjadi salah satu insan mandiri? halaah,,, dengan doktrinisasi yang begitu gencar sepertinya aku masih bisa hafal budaya dan visi Mandiri,,haha.. baru Jumat kmarin smpet main ke Mandiri dan membayangkan andai masih bertahan disana...


tapi masa bersama Mandiri tidak berlangsung lama,, dengan posisi sebagai frontliner dan rutinitas yang itu-itu saja aku pun memutuskan untuk bosan,, dulu aku merasa masuk bank ya jalannya hanya melalui posisi frontliner, eh tnyata ada program yang namanya ODP,, alias officer developmet program,, simpelnya program ini membuat seseorang akan langsung menduduki posisi minimal setara supervisor,, intinya adalah bosku seumuran denganku,,huaa.... ga terimaa...aku juga bisa kok! hanya gak tau informasi aja :D

ketika kebosenan melanda ditambah bos seusiaku,, tanpa dinyanya aku yang jarang buka twitter tiba2 berinisiatif buka twitter daan membcalah info tentang ODP di bank lain,, yaa daftar donkk yaa.. sampai pada tahap tes interview terakhir,, aku memutuskan mundur dari Mandiri,, resign setelah kurang lebih 1,5 tahun mengabdi,, belum keterima di bank lain tapi sudah memutuskan resign, ya sudahlaah yaa..toh klo ga dapet ya kuliah aja lagi, sebegitu simpelnya mikir,.

toh nasib berkata lain, aku lolos tes kesehatan dan disodori kontrak dengan durasi 3 tahun lebih dengan penekanan "bersedia ditempatkan diseluruh Indonesia",, aku sempat ragu,, bukan karena penekanan itu, tetapi lebih kepada durasi kontrak yang menurutku lamaa,, 3 tahun itu diluar pelatihan setahun.. tapi pilihan saat itu adalah take it or leave it,, ya sudah ngapaen juga mikir2 lama,, yang nanti pikirin nanti aja,, tanda tangan saja... dan resmilah aku menjadi bagian dari program ODP (plus embel-embel Local Career) keluarga besar BNI 46..

setelah pelatihan in class kurang lebih 6 bulan di Sby dan sebulan magang di Dps maka penempatanku adalah BIMA sebagai credit analis,, sbuah kota yang namanya pun gak pernah terpikirkan sebelumnya,, yg shock sih mama kali yaa,, anaknya paling kecil pemalas skrg msti tinggal terpisah di luar kota,, tapi di kota ini banyak banget pengalaman yang membentuk karakterku..di kota ini aku belajar toleransi,di kota ini aku belajar menolak aplikasi kredit di depan nasabah yang bercucuran air mata,, di kota ini aku belajar makan bandeng dan di kota ini aku belajar kangen..


tapi pilihan kembali datang,, datang mengalir begitu saja, Pak Wayan yang menghandle nasabah prioritas Mandiri menelepon,, kurang lebih percakapannya,,
"dik, gw dpet offering dari bank lain, gw mw lu gabung sama gw,, tapi tolong pikirin baik2, dari segi gaji, target, tunjangan kesehatan,,bla...blaa... gw tunggu jawaban lu ya"
seingatku jawabanku sesimpel
"pak, saya terima tawarannya, buat apa saya mikirin gaji,dll klo sekaliber bapak yang sudah berpengalaman aja bersedia pindah?"
semesta ini terkadang agak lucu,, Pak Wayan yang selama aku bekerja di Mandiri hampir tak pernah berkomunikasi (hanya sesekali via telepon terkait dengan reksadana) malah menjadi pembuka jalan karirku berikutnya..yah walau harus diakui ada peran mantan sebagai perantara :D


proses interview di bulan desember 2012, dan januari 2013 aku sudah dinyatakan diterima di PERMATA Bank as a relationship manager,,hehe... tapii aku bru masuk permata bulan Juni 2013,, sekitar 5 bulan masih terganjal birokrasi untuk resign,, birokrasi yang terkait dengan kontrakku yang ujung2nya akan terkait dengan nilai pinalti yang harus kubayar disamping aku harus menunggu masa2 pembayaran bonus tahunan.. dan akhirnya nilai pinalti keluar senilaaiiii,, yah lumayanlah nilainya bisa dipake buat bayar kontrakan kost di bima selama 5 tahun,,

tiba di Permata artinya ke(m)bali.. mendapati lingkungan yang begitu kondusif,, yang menerimaku di team yang semuanya wanita dan aku yang termuda,, mendapati lingkunganku sekarang obrolan di luar kerja adalah obrolan rumah tangga dan anak2 balita mereka,, yang membutuhkan perubahan karakter yang sebelumnya sebagai analis kredit selalu skeptis dan (agak) saklek menjadi marketing yaang,, yang taulah marketing bank seperti apa..



di sela-sela kerja di Permata aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah,, itung-itung supaya duit ga ditabung melulu *eh... dan disinilah aku bertemu dengan Mba Putri,, yang singkat cerita menawarkan untuk bergabung di kantornya,, tawaran pertama berlalu begitu saja,, tawaran kedua rupanya lebih serius dan dilanjutkan dengan interview,, daann....resign kali ini yang ckup membimbangkan..

toh apapun retensi yang terjadi dari permata,, aku gak ingin disetir,, ada deadline yang mesti diambil,, kompromi tidak boleh sebatas kata-kata dan posisi harus sejajar *halahh... *siapa gueh..

proses perekrutan di kantor baru juga berjalan lambat, terhitung dari proses awal penawaran pada
Juli 2015,, setelah itu aku memutuskan resign pada september 2015,, namun ditolak,, ajukan lagi oktober,, ditolak lagi,, dan pada akhirnya aku memutuskan menginput resign pada bulan november akhir dengan pertimbangan desember akhir sudah keluar dengan konsekuensi yang terpampang nyata,,, yaa..aku akan menjadi pengangguran,, namun rupanya nasib baik masih memihakku,, februari 2016 kontrak baru telah tiba,, dan disinilah aku berada sekarang:



RESIGN,, adalah sebuah kata yang hampir setiap saat aku dengar,, oke dengar saja,, namun kata2 itu sekedar hanya sebuah kata2 pelampiasan emosi sesaat,, justru terkadang yang gembar gembor resign hingga sekarang malah msih di posisi yang sama...

jika dihitung2 berarti aku sudah 3x resign di tempat yang berbeda (diluar pekerjaan sebelum tamat kuliah) semua memiliki kesan yang berbeda,, resign di Mandiri, keluarga kurang mendukung,,apalagi aku waktu itu posisi belum mendapat pekerjaan.. resign di BNI 46 yang mngkin akan memancing banyak komentar maupun pendapat,, maklum dengan posisi sebagai ODP dan ditempatkan di BIma,, komentar didominasi oleh "andika ga tahan tinggal di luar Bali" apalagi aku mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk membayar pinalti,,dan aku merasa hebat ketika resign tanpa tau brapa pinalti yang harus kubayar sebelumnya (pasrah)... kemudian resign di Permata,, ini pertaruhan yang begitu beraat,, di satu sisi aku benar2 ingin keluar kantor,, di sisi lain lingkungan Permata sangat kondusif,, secara personal dengan atasan mereka sangat baik,, dengan team juga mereka (rasanya) begitu sayang..tapi pilihan sudah diputuskan,, nganggur sebulan dengan kondisi punya KPR,, mesti bayar kuliah itu ga asik blas,,haha...

lalu apa tujuan aku resign? okee... gak munafik,, secara garis besar yang aku inginkan adalah posisi,, secara posisi aset bank mngkin aku mengalami penurunan,,namun secara posisi pekerjaan atau jabatan aku bisa dibilang merangkak naik,, dan posisi tentu saja berbanding lurus dengan yang namanya income,, klo ada yang tau gajiku awal di Mandiri, jika dibandingkan dengan saat ini, berarti sudah naik sekitar 7,5 x lipat..ditambah bonus pengalaman berinteraksi dengan lingkungan, budaya dan pertemanan yang berbeda di setiap banknya,, ini merupakan keuntungan tersendiri..

begitu banyak komentar yang mengiringi di setiap perpindahan,, tapi aku gak hidup dari komentar orang kan? :) selama pindah baik2 dan meninggalkan kantor tanpa ada masalah ya aku rasa sah2 saja mengambil peluang yang ada,, di setiap bank ada juga kok prestasi yang aku toreh (menurutku tentu saja)
"andika beruntung" yaa...beruntung ada yang nawari,,beruntung ada yang dikenal,, haha...aku rasa tidak sesederhana itu,, yang pertama sesuai prinsip "high risk high return" setiap perpindahan ada resikonya,, ada kontrak,, ada target,, ada pinalti,, beranikah bertaruh?
dan yang sangat aku yakini adalah bekerjalah dengan sepenuh dan setulus hati,, mngkin kerja keras kita tidak dibayar saat itu juga,, tidak dengan atasan yang sama,, namun alam akan membalasnya dengan kondisi yang jauh lebih menarik dan kita tinggal menyaksikannya..

kemana selanjutnya aku melangkah? entahlaahh................

Baca juga : "mengomentari resign"

Minggu, 03 Juli 2016

terlampau nyenyak

sudah 6 bulan sejak postingan terakhir...
entah kenapa,, kebanyakan ide tapi tak bisa diwujudkan dalam tulisan.
sayang sekali..

terlalu pemalas kali ini,,
motivasi entah kmanaa...

tapi hidup saat ini sangat pantas untuk lebih dari bersyukur...
apa lagi yang mau dicari ketika tidur sudah terlampau nyenyak?hehe...